Minggu, 18 Juli 2010

Back in time

at the very moment, when little did i know.....

Saya memutar dua dadu di tangan saya, ingin menggenggam sesuatu yang utuh, lengkap, seperti permukaan dadu, menaruh harapan besar ketika melepaskannya di meja rolet, bukan seberapa besar yang ingin saya dapatkan, sebenarnya....saya ingin mendapatkan sesuatu kembali.

Hari dimana saya turun dan menatap sekitar, diikuti harapan dan tangis akan kehidupan yang lalu, dan kini semuanya tidak akan kembali, semua berada di titik nol lagi, saya belum memulai, saya belum bisa mengakhiri, saya belum bisa bercerita banyak tentang hari ini, tapi saya mengerti banyak tentang masa lalu.

Putaran pertama,
Saya adalah rapuh, saya adalah kapas lembut yang mudah terbentuk, dan pulluhan ribu roll tissue sudah habis untuk air mata, yang entah kenapa selalu jatuh, meski terkadang mereka mulai mengering tapi emosi saya memproduksi mereka kembali. Saya adalah yang tampak sangat kuat, yang lebih bijaksana, mampu menahan emosi karena dikelilingi emosi orang lain. Semuanya terkumpul dalam sebuah panci besar, mendidih namun tidak meluap. Saya menunggu hari saya meledak, namun ternyata saya tidak pernah meledak. Meski saya berjalan jauh dari api, tapi api membakar saya dengan realita, api mengikuti saya dengan pertalian darah....
Realita, saya kalah di putaran ini

Putaran kedua,
Saya tak pernah lebih utuh dari hari itu, semua pengharapan dan impian mengenai diri saya yang berbakat, telah sampai di ujung langit, saya tidak mengerti bahwasanya langit bukanlah ujung dari hubungan saya dengan Tuhan, ketika saya yakin cinta ada di genggaman saya, dan cinta akan menyertai saya untuk memberi kekuatan, yang saya sebut 'cinta' malah semakin menjauh. Saya menjadi keruh, negatif, egois, posesif, semua hal yg tidak pernah saya bayangkan ada di dalam diri....itu bukan saya...saya mengenal diri saya jauh lebih baik daripada emosi ini, tanpa sadar disinilah panci saya meledak, menguarkan semua kekecewaan yg pernah ada...saya menjadi bukan diri saya lagi...ribuan kali saya berharap agar waktu kembali ketika saya pertama datang dulu, tapi waktu mengacuhkan saya dan terus berputar, hidup bukan milik saya.
Realita, saya kalah lagi

Putaran ketiga,
Kini di genggaman saya sendiri, nol, nihil, mencoba menggapai lagi apa yg saya impikan, tapi kini impian bukan lagi cita - cita remaja saya, impian saya cuma realita, bukan lagi bunga tidur...karena bunga saya telah layu...saya bukan pribadi yang orang cita - citakan, bukan diri saya yang saya banggakan. Kumohon, penuhi lagi hati ini, saya membutuhkan kamu dari yang kamu pikir, saya tahu saya harus menolong diri saya sendiri, tapi saya membutuhkan harapan saya kembali.
Saya kehilangan harapan, dan entah dimana harus saya cari ...

Jangan biarkan saya merasa kalah lagi....

24 Oktober 09

CLFC

CLFC

Lombok, Jl. Airlangga

Can Lucky Yakiniku, Mega Panas Jumbo, kentang goreng, root beer regular. Can Lucky Fried Chicken, menurut Boi, disinilah semua bermula, dia memesan porsi dua orang untuk dirinya, “aku menunggu” katanya dalam hati, seperti seluruh buku motivasi yang telah dia lahap, bahwa dia harus terus berusaha tegar dan mencari jawaban dalam dirinya yang tak kunjung datang. Dia sadar sepenuh jiwa, bahwa dia membutuhkan orang lain untuk menemukan jawaban. Suatu zat tidak akan berguna kecuali bergabung dengan zat lain.

Boi menyendok makanan, mengecap dengan indera lidahnya, rasanya masih tidak sama hari ini, seakan semua saraf otak dan lidah sudah membuat kesepakatan, rasa makanan di Can Lucky Fried Chicken tidak akan selezat dulu sebelum dia menemukan cinta seperti Rai.

Rai yang pertama kali bilang kalau lezatnya makanan disini karena dia menghabiskan makan siang dengan Boi, lalu Boi percaya, hingga hari ini, dan ketika Rai pergi, dia tidak hanya menghancurkan hati Boi namun juga beberapa saraf rangsangan. Boi menghempas sendok, dia mungkin depresi, bagaimana mungkin sugesti terhadap makanan bisa sebesar ini, kenapa dia bisa begitu bodoh untuk berjanji bahwa sebelum dia mengembalikan rasa lezat CLFC berarti dia tak akan bisa mengembalikan rasanya cinta dalam hidup.

Bunyi HP.

“Yo Bro, bentar lagi aku kesana….
Yeah, still searching what’s wrong with me…
Oke, see you at the airport”

Boi pergi dari restoran itu, membiarkan seluruh makanannya mubazir.

***
CLFC, Jl. Ahmad Yani, Marion.

“Kamu tuh aneh bin suraneh, nyari rasa makanan sampai harus ke Lombok, pulang dari sana, sama aja, nyari CLFC juga” Marion menghisap rokoknya dalam – dalam, lalu membuang puntungnya. Boi Cuma bisa angkat bahu. “Jangan berlagak kayak film deh Sis” Marion menyulut rokok berikutnya.

“Aku tuh ga berlagak kayak film yang mencari cinta Mar, its true! Rasa CLFC ga sama setelah aku diputusin Rai”

“Terus, yang kamu mau lakukan apa?”

“Hmm, gini, pokoknya kalau ada yang ajak nge-date, aku akan bawa ke CLFC, siapa yang bisa bikin rasa CLFC enak banget, aku akan terus sama dia”

“Oh, jangan lupa, makannya pas laper, aku yakin rasanya pasti enak banget” Marion mencibir.

“Mar, Im serious” Boi menepuk bahu tangan Mar.

“Whatever deh Boi, emang sekarang apa rasanya CLFC pas kamu makan sama aku?”

“Hambar”

“Hihihihi, berarti kalau rasanya enak lagi pas kamu kencan ama cewe, kamu bakal terus sama dia?”

“Hahaha, iya ya, nggak tahu deh Mar”

***

CLFC, Jl. Raya Darmo, Jie.

“Aku tuh dari Tobelo, Papaku kepala Dinas Pariwisata” Jie bicara sambil menguyah, tampangnya ‘nggak-banget’ kalau lagi seperti itu, tapi Boi terus tersenyum memperhatikannya. Jie, berparas separuh Spanyol, dengan rambut keriting, dia tampak bukan asli Indonesia sama sekali…sebelum kamu dengar dia bicara dengan logat Indonesia Timur.

Boi mengambil saos sambal banyak – banyak dan memakannya seperti selai stroberi, dia berpikir untuk konseling sekalian, karena bahkan rasa saos sambal sudah tidak pedas lagi. Boi mencoba untuk menikmati ayam crispynya, tapi selain harus konsentrasi dengan percakapan dengan Jie, ternyata rasa makanannya tetap hambar, padahal dia sudah ikut saran Marion untuk makan ketika lapar.

“So?” Marion bertanya sambil lahap menyantap nasi goreng. Boi membuat tanda jari yang melintasi leher. Marion tertawa terkekeh, “makanya ganti aja makanannya jadi nasi goreng, kayak ini nih, enak banget”

Boi menyendok sedikit, “iya, enak juga”

“Tapi jangan cari penggantiku lewat nasi goreng ya, kurang elite”

“Huh, Pede banget”.

***

CLFC, Sinar Jemur, Magi.

“Aku boleh minta kulitnya ga?” Magi memintanya dengan sopan, di kencan pertama?. Boi menyerahkan ragu – ragu, Rai tidak pernah minta kulit ayam goreng crispy, bahkan memberikannya, dan tidak pernah menggigit tulang rawan, dan Magi sedang melakukannya, semua kebalikan dari Rai. Tidak hanya kehilangan selera, dia juga kehilangan mood untuk melanjutkan kencan ini.

Rai suka dengan Can Lucky Yakiniku, tidak pernah habis memakan nasinya, dia tidak pernah makan ujung akhir dari bagian sayap, selalu memesan bagian Dada, saus tomat, minum Fanta Strawberry. Boi melamun membayangkan apa yang sedang dilakukan Rai, mungkin dia berada di outlet CLFC di belahan Indonesia lain dan tidak merasa ada perubahan dengan makanannya. Boi merasa miserable dengan dirinya sendiri.

“..tapi kamu tuh terlalu tomboy untuk aku, bisa nggak kamu panjangin rambut”, Magi mengatakannya sambil menjilat ujung – ujung jarinya, lalu nyengir “Sorry, aku suka banget melakukan ini” dan menjilat sekali lagi.

Boi bingung harus berkata apa, dia lalu beranjak dari duduk dan pergi keluar, “Im sorry Magi, its silly and ridiculous for you, aku juga nggak akan kencan sama kamu, tidak ada bedanya dengan aku pergi tiba – tiba sekarang” bisik Boi dalam hati.

***

Mei adalah teman kampus Boi biasa, mereka cukup banyak bicara di kampus, namun jarang melewatkan waktu berdua untuk jalan – jalan. Marion tidak bisa menemani Boi karena dia harus bekerja, jadi Boi kemudian mengambil inisiatif untuk mengajak Mei hari itu.

“Makan apa kita Mei?”

“Aku sih makan apa aja ya, tapi kayaknya ke CLFC sekarang enak”

“Great! Aku senang banget makan CLFC, hayo..budal!!”

CLFC, Tunjungan Plaza, Mei.

“Aku belum pernah coba tuh Can Lucky Yakiniku”

“Enak kok, rasanya manis gurih gitu” Boi menyuap makanannya dan merasakan rasa manis gurih yang barusan dia sebut, Boi heran.

“Kenapa kamu? Kok terkesima? Kayaknya enak banget tuh makanan” Mei menguliti ayamnya lalu membuka bungkus nasi. “Eh, mau kulitnya nggak?”.

Boi berusaha menenangkan dirinya, mengambil kulit yang disodorkan Mei, kemudian merutuk dalam hati. “Sialan, benar juga kata Marion, bagaimana kalau ternyata malah cewek yang bikin aku merasakan CLFC lagi”.

Nasi Mei tidak habis dan dia tidak menggigiti kulit rawan. “Kamu nggak suka ya menggigit tulang rawan?” Tanya Boi.

“Hmm, nggak”

“Padahal cewek – cewek suka banget lho”

“Nggak semua cewek Boi”

“Iya sih, aku juga nggak suka. Kok nasinya ngga abis Mei?”

“Aku nggak bisa makan banyak, lagipula kalau kekenyangan malah sakit perut”

Boi menarik napas dan mencoba menikmati rasa CL Yakiniku, mungkin dia tidak mengerti tentang semua ini, Cuma ingin merasakan bahwa lidahnya berfungi dengan baik.

***

Marion menarik tangan Boi dan mendudukkannya paksa.

“Ayo kita coba”

“Mar, kita udah makan disini berkali – kali dan rasanya tidak seperti kemarin”

“Jangan gila ya Boi, aku tuh kemarin bercanda bicara soal cewek, kamu terlalu gampang tersugesti, rasa makanan juga Cuma hasil sugesti otak kamu”

“Terserah kamu percaya atau nggak” Boi menyingkirkan baki makanannnya.

“Memangnya ada chemistry pas kamu makan sama dia?”

“Because of the taste, yes!”

“Satu – satunya cara adalah kamu harus makan lagi sama dia, tapi kalau dari penglihatanku, orang macam Mei bukan pecinta sesame jenis”

“Lha aku?”

“Ya, bakat”

“Sialan kamu Mar”

“Terus, kamu akan selamanya nggak merasakan enaknya makan CLFC?”

“Mungkin”

“Nggak mau coba lagi dengan Mei?” kini Marion tertawa sinis.

“Aku belum segila itu”.

Beyond my imagination

Boi sekali lagi mencoba meneguhkan hati untuk melakukannya. Sekarang mungkin bukan saat yang tepat, Boi bisa saja pergi dalam diam, dan menyimpan semuanya dalam khayal. "cintaku yang sebatas mimpi", begitu katanya kerap kali, tapi Boi tidak ingin menyesal kali ini, meskipun dia akan mendengar kata 'tidak' atau mungkin hardikan kasar.

Mereka duduk di teras rumahnya, membunuh waktu dengan berbicara mengenai banyak hal, Boi masih berpikir lagi, mungkin salah, mungkin dia tidak harus melakukannya, mungkin semua ini malah akan menyakiti hati mereka berdua, tapi....tidak akan ada hari lain, besok dia akan terbang ke negeri lain, dan...mereka belum tentu bertemu lagi.

ketika dia sedang berbicara, Boi berlutut lalu mengeluarkan cincin emas putih dari dompetnya, dia terkesima "what is that?"
"as you see, its a ring"
"what is that for?"
"its for you"
dan keadaan menjadi canggung, Boi menarik napas dalam - dalam, mengumpulkan segenap kekuatannya.

"Aku tahu, kita tidak akan pernah lebih dari ini, tapi yah...aku cinta"
dia masih diam saja, bibirnya terangkat, entah tersenyum tulus atau sinis, dia bingung dengan kelakuan anak muda di hadapannya, sejenak dia berpikir ini gila, tapi mungkin memang ini yang disebut asa, atau fenomena? seorang yang lebih muda dengan percaya dirinya menyatakan cinta, tepat ketika dia bahkan tidak memikirkan tentang perkara perasaan, atau anugerah? ketika dia bilang kepada dirinya sendiri malam lalu bahwa dia telah mati rasa, sekejap ada seseorang yang menawarkan cinta.

"Oh Tuhan, entah, ini salah" begitu saja jawabnya.

"Ya, aku tahu ini salah, dan aku melakukan ini bukan agar kamu menerima cintaku, aku hanya ingin kamu mengingat hari ini, ketika aku memberikan cincin, agar kamu tahu bahwa ada seseorang yang mengagumi kamu, sejak pertama kali melihatmu"
"Ya, aku bahkan membeli cincin ini setelah kamu berbicara di depan saya, tapi bukan kepada saya"

"Tapi selama ini kita sudah menjelaskan bagaimana seharusnya hubungan kita"

"dan aku tidak peduli" Boi menyodorkan cincin itu lagi. "Tidak perlu dipasang kalau tidak mau, tapi tolong kamu simpan, siapa tahu kamu berubah pikiran"

"Kamu akan lupa kepadaku, sejenak setelah aku pergi"

"Kamu meragukan perasaanku? yang telah kupendam beberapa tahun belakangan ini? hanya karena aturan main kamu..." Boi menelan ludah, dia tidak ingin menempatkan situasi sulit, tapi Boi ingin dia tahu segalanya.

"Boi....I can't, I'm not..."

"Shhh..."

Boi berdiri "Just remember tonight"

Universal

Ketika saya remaja, banyak dikatakan musik itu sebagai bahasa universal, saya percaya saja, meskipun saya sering menjelek - jelekkan band kesayangan teman saya, maupun rebutan radio dengan adik, tapi saking saya percaya kalau itu universal, saya jadi memaksa mereka memahami jenis musik yang saya dengar. Padahal jaman itu, yang namanya musik Underground dan Ska suka berantem ama anak Punk, yang juga sering berantem ama anak Hardcore, yang suka ngatain Banci kepada lelaki yang menggemari Boyband, dimana letak universal nya? Belum lagi kendala bahasa, seumur - umur saya tidak pernah suka lagu Besame Mucho, karena saya nggak ngerti blas, lagunya tentang apa.

Kemudian, saya melihat bentuk lain Universal itu kemarin, ketika terjebak di dunia orang tua - anak, menaikkan derajat ketuaan, dan menurunkan pasaran saya sebagai seorang gadis, padahal cowok - cowok di Kidzania itu bertubuh tegap dan rupawan, tapiiiiiiii lihat saya bawa dua anak kecil, maka pupus harapan untuk kenalan sama mereka.

Ketika melihat adik - adik saya mengantri dan berinteraksi dengan anak - anak lain, tersadarkan bahwa semakin dewasa, ada kemurnian yang hilang, kita tidak lagi selepas anak kecil. Adik - adik saya memamerkan kaus mereka yang bisa menyala kelap - kelip, anak di sebelahnya yang mungkin berusia sekitar 3 tahun, memperlihatkan uang kidzos (mata uang Kidzania) yang banyak, lalu menceritakan dari mana saja dia mendapatkan uang itu.

Lalu tiba - tiba datang seorang anak cina yang memamerkan kartu ATM BCA Kidzania, menceritakan bahwa ini bukan kunjungannya yang pertama kali, sementara kartu ATM tersebut berputar ke setiap orang (kapan kita bakal hand over kartu ATM kita sendiri?), di luar bahwa memang nilainya yang tidak berharga untuk kita, tapi anak - anak itu tidak takut untuk kehilangan kebanggaannya.

Saya memang tidak diperbolehkan masuk ruangan, cuma merapat ke jendela dekat mereka (nguping), saya bisa melihat, bahwa bila anak - anak dikumpulkan tanpa ada intervensi orang tua, mereka memperlihatkan kemampuan sosial yang luar biasa. Setelah adik - adik saya selesai bertugas sebagai pemadam kebakaran, mereka bercerita bahwa mereka menolong seorang anak kecil perempuan turun dari mobil pemadam, datang seorang anak lelaki lagi, memanggil adik saya Robie, lalu mereka ber-high-5. Mudah sekali mereka bergaul.

Kira - kira 2 tahun yang lalu, ketika saya berkunjung ke Gili Trawangan, ada seorang anak perempuan bule bermain dengan sekelompok anak lokal, bermain sepeda, ketika saya tersenyum, anak bule tersebut berhenti sebentar untuk menyapa saya, seorang anak lokal menepuk bahunya, lalu berkata "kesana" sambil menunjuk lurus ke depannya. Saya percaya seratus persen, anak bule itu tidak mengerti arti kata "kesana", tapi secara instingtif, dia ikut bergerak bersama gerombolannya, tanpa tahu jelas kemana arah mereka.

Saya tidak buka satupun buku ilmu sosial tentang hal ini, saya juga tidak perlu penjelasan rumit tentang saraf atau hormon apa yang menggerakkan anak - anak itu berinteraksi. Saya cuma memikirkan bahwa kerumitan personalitas orang dewasa, membuat kita memagarkan interaksi sosial, di luar bahwa memang kita telah menemui banyak orang, dan beberapa diantaranya bikin kita kapok untuk ketemu lagi, tapi apakah kita akan bermain - main seperti anak kecil lagi?

Above all that, to my bro and sis, Robie dan Mia, you both grew so fast, learned a lot, and getting smarter. Sometime i wish you both are still babies, so you would let me kiss you publicly hehehe. My life, my precious. Love you.

Sabtu, 17 Juli 2010

carnival - the cardigans

I will never know
cause you will never show
come on and love me now
come on and love me now

I will never know
cause you will never show
come on and love me now
come on and love me now

come on and love me now

Carnival came by my town today
bright lights from giantwheel
fall on the alleyways
and I'm here
by my door
waiting for you

I will never know
cause you will never show
come on and love me now
come on and love me now

I will never know
cause you will never show
come on and love me now
come on and love me now

come on and love me now

I hear sounds of lovers
barrel organs, mothers
I would like to take you
down there
just to make you mine
in a merry-go-round

I will never know
cause you will never show
come on and love me now
come on and love me now

I don't care 'bout anything but you