Minggu, 18 Juli 2010

Beyond my imagination

Boi sekali lagi mencoba meneguhkan hati untuk melakukannya. Sekarang mungkin bukan saat yang tepat, Boi bisa saja pergi dalam diam, dan menyimpan semuanya dalam khayal. "cintaku yang sebatas mimpi", begitu katanya kerap kali, tapi Boi tidak ingin menyesal kali ini, meskipun dia akan mendengar kata 'tidak' atau mungkin hardikan kasar.

Mereka duduk di teras rumahnya, membunuh waktu dengan berbicara mengenai banyak hal, Boi masih berpikir lagi, mungkin salah, mungkin dia tidak harus melakukannya, mungkin semua ini malah akan menyakiti hati mereka berdua, tapi....tidak akan ada hari lain, besok dia akan terbang ke negeri lain, dan...mereka belum tentu bertemu lagi.

ketika dia sedang berbicara, Boi berlutut lalu mengeluarkan cincin emas putih dari dompetnya, dia terkesima "what is that?"
"as you see, its a ring"
"what is that for?"
"its for you"
dan keadaan menjadi canggung, Boi menarik napas dalam - dalam, mengumpulkan segenap kekuatannya.

"Aku tahu, kita tidak akan pernah lebih dari ini, tapi yah...aku cinta"
dia masih diam saja, bibirnya terangkat, entah tersenyum tulus atau sinis, dia bingung dengan kelakuan anak muda di hadapannya, sejenak dia berpikir ini gila, tapi mungkin memang ini yang disebut asa, atau fenomena? seorang yang lebih muda dengan percaya dirinya menyatakan cinta, tepat ketika dia bahkan tidak memikirkan tentang perkara perasaan, atau anugerah? ketika dia bilang kepada dirinya sendiri malam lalu bahwa dia telah mati rasa, sekejap ada seseorang yang menawarkan cinta.

"Oh Tuhan, entah, ini salah" begitu saja jawabnya.

"Ya, aku tahu ini salah, dan aku melakukan ini bukan agar kamu menerima cintaku, aku hanya ingin kamu mengingat hari ini, ketika aku memberikan cincin, agar kamu tahu bahwa ada seseorang yang mengagumi kamu, sejak pertama kali melihatmu"
"Ya, aku bahkan membeli cincin ini setelah kamu berbicara di depan saya, tapi bukan kepada saya"

"Tapi selama ini kita sudah menjelaskan bagaimana seharusnya hubungan kita"

"dan aku tidak peduli" Boi menyodorkan cincin itu lagi. "Tidak perlu dipasang kalau tidak mau, tapi tolong kamu simpan, siapa tahu kamu berubah pikiran"

"Kamu akan lupa kepadaku, sejenak setelah aku pergi"

"Kamu meragukan perasaanku? yang telah kupendam beberapa tahun belakangan ini? hanya karena aturan main kamu..." Boi menelan ludah, dia tidak ingin menempatkan situasi sulit, tapi Boi ingin dia tahu segalanya.

"Boi....I can't, I'm not..."

"Shhh..."

Boi berdiri "Just remember tonight"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar