CLFC
Lombok, Jl. Airlangga
Can Lucky Yakiniku, Mega Panas Jumbo, kentang goreng, root beer regular. Can Lucky Fried Chicken, menurut Boi, disinilah semua bermula, dia memesan porsi dua orang untuk dirinya, “aku menunggu” katanya dalam hati, seperti seluruh buku motivasi yang telah dia lahap, bahwa dia harus terus berusaha tegar dan mencari jawaban dalam dirinya yang tak kunjung datang. Dia sadar sepenuh jiwa, bahwa dia membutuhkan orang lain untuk menemukan jawaban. Suatu zat tidak akan berguna kecuali bergabung dengan zat lain.
Boi menyendok makanan, mengecap dengan indera lidahnya, rasanya masih tidak sama hari ini, seakan semua saraf otak dan lidah sudah membuat kesepakatan, rasa makanan di Can Lucky Fried Chicken tidak akan selezat dulu sebelum dia menemukan cinta seperti Rai.
Rai yang pertama kali bilang kalau lezatnya makanan disini karena dia menghabiskan makan siang dengan Boi, lalu Boi percaya, hingga hari ini, dan ketika Rai pergi, dia tidak hanya menghancurkan hati Boi namun juga beberapa saraf rangsangan. Boi menghempas sendok, dia mungkin depresi, bagaimana mungkin sugesti terhadap makanan bisa sebesar ini, kenapa dia bisa begitu bodoh untuk berjanji bahwa sebelum dia mengembalikan rasa lezat CLFC berarti dia tak akan bisa mengembalikan rasanya cinta dalam hidup.
Bunyi HP.
“Yo Bro, bentar lagi aku kesana….
Yeah, still searching what’s wrong with me…
Oke, see you at the airport”
Boi pergi dari restoran itu, membiarkan seluruh makanannya mubazir.
***
CLFC, Jl. Ahmad Yani, Marion.
“Kamu tuh aneh bin suraneh, nyari rasa makanan sampai harus ke Lombok, pulang dari sana, sama aja, nyari CLFC juga” Marion menghisap rokoknya dalam – dalam, lalu membuang puntungnya. Boi Cuma bisa angkat bahu. “Jangan berlagak kayak film deh Sis” Marion menyulut rokok berikutnya.
“Aku tuh ga berlagak kayak film yang mencari cinta Mar, its true! Rasa CLFC ga sama setelah aku diputusin Rai”
“Terus, yang kamu mau lakukan apa?”
“Hmm, gini, pokoknya kalau ada yang ajak nge-date, aku akan bawa ke CLFC, siapa yang bisa bikin rasa CLFC enak banget, aku akan terus sama dia”
“Oh, jangan lupa, makannya pas laper, aku yakin rasanya pasti enak banget” Marion mencibir.
“Mar, Im serious” Boi menepuk bahu tangan Mar.
“Whatever deh Boi, emang sekarang apa rasanya CLFC pas kamu makan sama aku?”
“Hambar”
“Hihihihi, berarti kalau rasanya enak lagi pas kamu kencan ama cewe, kamu bakal terus sama dia?”
“Hahaha, iya ya, nggak tahu deh Mar”
***
CLFC, Jl. Raya Darmo, Jie.
“Aku tuh dari Tobelo, Papaku kepala Dinas Pariwisata” Jie bicara sambil menguyah, tampangnya ‘nggak-banget’ kalau lagi seperti itu, tapi Boi terus tersenyum memperhatikannya. Jie, berparas separuh Spanyol, dengan rambut keriting, dia tampak bukan asli Indonesia sama sekali…sebelum kamu dengar dia bicara dengan logat Indonesia Timur.
Boi mengambil saos sambal banyak – banyak dan memakannya seperti selai stroberi, dia berpikir untuk konseling sekalian, karena bahkan rasa saos sambal sudah tidak pedas lagi. Boi mencoba untuk menikmati ayam crispynya, tapi selain harus konsentrasi dengan percakapan dengan Jie, ternyata rasa makanannya tetap hambar, padahal dia sudah ikut saran Marion untuk makan ketika lapar.
“So?” Marion bertanya sambil lahap menyantap nasi goreng. Boi membuat tanda jari yang melintasi leher. Marion tertawa terkekeh, “makanya ganti aja makanannya jadi nasi goreng, kayak ini nih, enak banget”
Boi menyendok sedikit, “iya, enak juga”
“Tapi jangan cari penggantiku lewat nasi goreng ya, kurang elite”
“Huh, Pede banget”.
***
CLFC, Sinar Jemur, Magi.
“Aku boleh minta kulitnya ga?” Magi memintanya dengan sopan, di kencan pertama?. Boi menyerahkan ragu – ragu, Rai tidak pernah minta kulit ayam goreng crispy, bahkan memberikannya, dan tidak pernah menggigit tulang rawan, dan Magi sedang melakukannya, semua kebalikan dari Rai. Tidak hanya kehilangan selera, dia juga kehilangan mood untuk melanjutkan kencan ini.
Rai suka dengan Can Lucky Yakiniku, tidak pernah habis memakan nasinya, dia tidak pernah makan ujung akhir dari bagian sayap, selalu memesan bagian Dada, saus tomat, minum Fanta Strawberry. Boi melamun membayangkan apa yang sedang dilakukan Rai, mungkin dia berada di outlet CLFC di belahan Indonesia lain dan tidak merasa ada perubahan dengan makanannya. Boi merasa miserable dengan dirinya sendiri.
“..tapi kamu tuh terlalu tomboy untuk aku, bisa nggak kamu panjangin rambut”, Magi mengatakannya sambil menjilat ujung – ujung jarinya, lalu nyengir “Sorry, aku suka banget melakukan ini” dan menjilat sekali lagi.
Boi bingung harus berkata apa, dia lalu beranjak dari duduk dan pergi keluar, “Im sorry Magi, its silly and ridiculous for you, aku juga nggak akan kencan sama kamu, tidak ada bedanya dengan aku pergi tiba – tiba sekarang” bisik Boi dalam hati.
***
Mei adalah teman kampus Boi biasa, mereka cukup banyak bicara di kampus, namun jarang melewatkan waktu berdua untuk jalan – jalan. Marion tidak bisa menemani Boi karena dia harus bekerja, jadi Boi kemudian mengambil inisiatif untuk mengajak Mei hari itu.
“Makan apa kita Mei?”
“Aku sih makan apa aja ya, tapi kayaknya ke CLFC sekarang enak”
“Great! Aku senang banget makan CLFC, hayo..budal!!”
CLFC, Tunjungan Plaza, Mei.
“Aku belum pernah coba tuh Can Lucky Yakiniku”
“Enak kok, rasanya manis gurih gitu” Boi menyuap makanannya dan merasakan rasa manis gurih yang barusan dia sebut, Boi heran.
“Kenapa kamu? Kok terkesima? Kayaknya enak banget tuh makanan” Mei menguliti ayamnya lalu membuka bungkus nasi. “Eh, mau kulitnya nggak?”.
Boi berusaha menenangkan dirinya, mengambil kulit yang disodorkan Mei, kemudian merutuk dalam hati. “Sialan, benar juga kata Marion, bagaimana kalau ternyata malah cewek yang bikin aku merasakan CLFC lagi”.
Nasi Mei tidak habis dan dia tidak menggigiti kulit rawan. “Kamu nggak suka ya menggigit tulang rawan?” Tanya Boi.
“Hmm, nggak”
“Padahal cewek – cewek suka banget lho”
“Nggak semua cewek Boi”
“Iya sih, aku juga nggak suka. Kok nasinya ngga abis Mei?”
“Aku nggak bisa makan banyak, lagipula kalau kekenyangan malah sakit perut”
Boi menarik napas dan mencoba menikmati rasa CL Yakiniku, mungkin dia tidak mengerti tentang semua ini, Cuma ingin merasakan bahwa lidahnya berfungi dengan baik.
***
Marion menarik tangan Boi dan mendudukkannya paksa.
“Ayo kita coba”
“Mar, kita udah makan disini berkali – kali dan rasanya tidak seperti kemarin”
“Jangan gila ya Boi, aku tuh kemarin bercanda bicara soal cewek, kamu terlalu gampang tersugesti, rasa makanan juga Cuma hasil sugesti otak kamu”
“Terserah kamu percaya atau nggak” Boi menyingkirkan baki makanannnya.
“Memangnya ada chemistry pas kamu makan sama dia?”
“Because of the taste, yes!”
“Satu – satunya cara adalah kamu harus makan lagi sama dia, tapi kalau dari penglihatanku, orang macam Mei bukan pecinta sesame jenis”
“Lha aku?”
“Ya, bakat”
“Sialan kamu Mar”
“Terus, kamu akan selamanya nggak merasakan enaknya makan CLFC?”
“Mungkin”
“Nggak mau coba lagi dengan Mei?” kini Marion tertawa sinis.
“Aku belum segila itu”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar